PUPUS
|
N
|
ama ku Sella, aku kuliah disalah
satu Universitas yang ada di Jakarta. Umurku masih terbilang muda, yaitu 21
tahun. Aku hidup sederhana tetapi berkecukupan. Suatu hari aku iseng, dan tidak
sengaja berkenalan dengan pria dewasa berumur 43 tahun.
“hiii...” sapanya.
“iya” jawabku
singkat. Sama sekali tidak terfikirkan akan berkenalan dengan pria yang umurnya
tidak jauh beda dengan ayahku. Entah apa yang aku fikirkan, kami pun bertukar
pin BBM.
Aku masih bersikap
jutek dan dingin, dikarenakan memang sifat bawaan lahir hehe ... tapi pria itu
tetap sabar dan tidak pernah bersikap marah padaku.
Hari demi hari kami
selalu berkomunikasi, dia perhatian sekali, rasanya belum pernah aku
mendapatkan perhatian sehangat itu.Pekerjaannya cukup bagus, ia seorang tentara
dengan pangkat Perwira Menengah yaitu LEKOL. Namun ada yang salah dangan ini !
DIA PRIA BERISTRI DAN MEMPUNYAI 2 ANAK!
“Sell, jangan lupa
makan siangnya, jangan sampai di tunda-tunda, terus solatnya juga.”
“iyah, oom
juga”jawabku.
Seminggu berlalu dengan
sejuta perhatian darinya, rasanya aku telah menemukan hatiku, namun apakah aku
harus berbagi dengan wanita lain?
Hampir satu bulan
kami berkomunikasi dan setiap harinya ia selalu telepon aku paling
sedikit 3 kali (udah kaya minum obat hehe) tapi sungguh, ia berhasil merebut
hatiku.
Pada suatu hari kami
bertemu, kami saling berpegangan tangan, dan ia pun memuluk dan mencium
keningku. Nyaman sekali ... rasanya tak ingin aku melepaskannya .
Setelah pertemuan
pertama, hubungan kami sedikit berjarak tak seperti biasanya. Aku merasa
sakit ... sedih ... apa memang ia tak suka padaku?
“oom berubah”
pesanku.
“berubah apa si sella
sayang? Oom Cuma sedikit lelah, oh yah besok oom mau berangkat ke Medan” yap
Medan itu tempat istri dan anak-anaknya tinggal. Tak tahu mengapa hatiku sakit
mengetahuinya. Apa aku cemburu?
Setelah itu kami
tetap seperti biasa, perhatiannya yang begitu nyata hadir kembali dalam
hari-hariku. Semakin ku sayang, semakin ku merasa bersalah. Sampai suatu hari
aku memutuskan untuk melupakannya dan mencari pria baru yang seumuran denganku.
“Oom, Sella sekarang
punya pacar, namanya Didit.” Ucapku dalam bbm.
“Punya pacar? Terus
kita gak bisa ketemu? Gak bisa berhubungan lagi? Oom kira Sella setia,
ternyata? Hmm” balasnya.
DEGGG ... Rasanya
sesak sekali, bisa-bisanya pria itu berkata seperti itu. Apa dia setia kepada
istrinya? Batinku.
“Bukan begitu oom,
kita tetap bisa berkomunikasi kok” dan kamipun melanjutkan bbmnya. Sikapku
sedikit berubah kepadanya, entah karena memang sudah berniat menjauhinya atau
aku telah ada rasa dengan Didit?
“kok Sella cuek si
sekarang? Lupa sama oom? Sudah asik dengan Didit?” lagi-lagi hatiku mendadak
sesak. Aku tak rela melepas oom, aku masih mencintainya. Tapi aku jahat! Aku
hanya memikirkan perasaanku tanpa memikirkan nasib keluarganya.
“engga oom, Sella gak
lupa. Sella masih untuk oom kok” jawabku. Setelah itu kamipun kembali menyatu.
Satu bulan ku
menjalani kisah dengan Didit, mulai ada perdebatan-perdebatan. Ia sering
melarangku untuk bersosialisasi dengan teman-teman, ia juga sering memarahiku
karena terlalu sibuk dan tak ada waktu untuknya. Dari situ aku selalu cerita
tentang Didit ke Oom, dan dari situ pula aku mulai yakin bahwa aku benar-benar
mencintai pria beristri tersebut.
Tak lama kami
melakukan pertemuan ke-2. Aku menceritakan kisahku, menceritakan semua yang ada
pada diriku, begitupun dia, dia menceritakan keluarganya dan
permasalahan-permasalahan yang ia hadapi. Aku merasa disayangi, dikasihi, dan
ia pun merasa dibutuhi. Kami saling melengkapi dan membawa hubungan ini ke
tahap serius walau kami menyadari akan cinta terlarang ini.
Seminggu berlalu, aku
merasa tidak puas dengan kisah ku ini. Oom mendadak cuek, telepon saja Cuma 3
kali dalam seminggu, biasanya sehari bisa lebih dari 3 kali. Aku merasa
diabaikan, merasa tak dicintai, dan aku merasa rapuh ...
Pikiran gila ku
mulai, lagi-lagi aku tak sengaja berkenalan dengan pria beristri. Umurnya pun
Cuma beda 1 atau 2 tahun dari oom. Dia pengusaha, dan dia mengajakku jalan.
Awalnya aku menolak secara baik pria tersebut, ohya namanya Bram. Biarpun
sikapku dingin kepadanya, ia tetap bersikap baik padaku. Selang berapa hari,
Bram lagi-lagi mengajakku kencan. Aku yang sedang merasakan sakit oleh Oom akhirnya
mengiyakan ajakannya.
Siang itu sekitar jam
2 siang Bram menjemputku dengan Inova barwarna abu-abu miliknya. Sempat terpaku
akan sosok Bram, terlihat jauh lebih muda dibanding foto dan juga
umurnya. Aku segera menyadarkan diri dan memasang sabuk pengaman. Kami
langsung meluncur ke arah mall Alam Sutra Serpong.
“kamu takut jalan
sama aku?” Bram memulai pembicaraan.
“ha? Eh engga kok.
Kenapa harus takut?” ucapku berdusta. Aku tidak takut untuk jalan sama kamu
Bram, tapi aku takut suka kamu! Batinku.
Sampai di XXI, Bram
bertanya “kamu mau nonton yang mana?”
“kita nonton jam yang
paling dekat aja” ucapku. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton film yang
judulnya tidak kami mengerti.
Didalam bioskop aku
cari posisi yang paling nyaman. Bram seraya menggenggam tanganku, oh sial dan
sekarang aku benar-benar tidak bisa menikmati filmnya. lalu tangan Bram naik
menuju pipiku, dibelai lembut pipi sebelah kananku dan jujur aku merasa
deg-degan.
Akhirnya film yang
berdurasi ±2 jam tersebut tak dapat ku mengerti alur ceritanya,
kami hanya saling berpandangan, berpegangan tangan dan saling menebar senyum.
Saat perjalanan
pulang aku selalu memandangi Bram, rasanya aku masih tidak percaya dengan apa
yang aku lakukan. Aku jalan dengan pria beristri lagi .. OMG ...
“jadi kapan kamu ada
waktu untuk aku lagi?” tanyanya di sela-sela alunan musik rohani yang ia putar.
“eh kapan ya? Nanti
deh aku kabari”
Kamu nyesel ya jalan
sama aku?” tanya Bram. Aku hanya menggeleng dan tersenyum manis padanya.
Sesampainya dirumah,
aku duduk dengan memejamkan mata. Bagaimana dengan oom? Dia sudah tak ada
kabar, apa secepat itu ia melupakaku? Tuh kan sell, apa dibilang! Dia itu Cuma
mainin kamu! Sudah lupakan dia! Kata-kata itu selalu ada didalam pikiranku.
Oke Sell, sekarang
dekat saja sama Bram, toh dia baik! Biar saja Oom rasakan, biar dia tau kalau
kamu bisa mendapatkan yang lebih, biar saja dia sakit tau kamu jalan sama pria
beristri! Ungkapku dalam hati.
Berapa hari kemudian
aku berhubungan lagi dengan oom, memang jelas aku tak bisa lepas darinya. Tapi
aku terluka dengan sikapnya yang seolah-olah menjadikanku permen karet.
“jadi sekarang Sella
sudah bertekad menjadi simpanan china itu?”tanyanya marah. Yappp ... Bram
memang beretnis China, agamanya pun berbeda dengan ku.
“Aku gak bermaksud
seperti itu, aku sama dia Cuma sekedar happy-happy aja”jawabku mengelak.
“ happy yang Sella
itu seperti apa?” nonton? Kencan? Makan? Dugem? Atau apa?”
“aku gak tau, ohya
aku sudah putus dengan Didit” jawabku
“oh syukurlah, Sella
mau gak jadian sama oom? Kan Sella sekarang statusnya bukan pacar siapa-siapa”
“tapi status Oom itu
suami orang!”
“bentar lagi juga tidak”
jawabnya. Apa pria itu benar akan menceraikan istrinya demi bersamaku? Tanyaku
dalam hati.
“oom bisa saja bicara
seperti itu ke Sella, tapi pasti beda lagi ke tante!”
“jadi Sella sudah
keukeh mau jadi simpanannya? Oom marah! Oom cemburu! Apa oom gak sanggup
seperti china-china itu? Apa Sella mau dinafkahi sama dia? Demi Allah oom gak
ikhlas dunia akhirat. Oom mau Sella jadi pacar oom! Semua dari oom, kenapa
harus dari orang lain si?”ungkapnya kesal.
“udah ya oom, sella
tuh cape selalu jadi yang keberapa dalam hidup oom! Selalu oom hargain perasaan
tante! Tapi apa? Bagaimana sikap oom ke Sella? Untuk nepatin janji dan gak
bohong saja apa oom bisa? Enggak kan?! Jujur oom Sella Cuma ingin Oom rasa apa
yang Sella rasa” jawabku menahan sesak.
“ apa yang Sella
rasa? Biar oom rasa? Sakitnya melihat Sella kencan dengan pria lain? Tega Sella
sakitin! Gitu maksud Sella kan? Gak sanggup Sell, Biar mati saja oom/”
“Iyah! Sella ingin
buat oom sakit! Buat oom kesal, buat oom marah! Dan buat oom benci Sella! Itu
yang Sella mau! Itu yang buat Sella mengiyakan ajakan Bram”
“tapi maaf, Sella kok
gitu? Sella mau matikan oom dengan cara itu?”
“karna Sella benci dengan keadaan
kita yang seperti ini” jawabku. Tak tahan akupun meneteskan air mata.
Setelah kejadian ini
oom pun benar-benar perhatian kembali, rasa sayang yang dulu hadir lagi. Aku
pun luluh dan kami menjalani hari demi hari seperti sepasang kekasih. Oom
bilang akan membawa anak-anak saat libur sekolah agar bisa dekat dan mulai
beradaptasi denganku.
Suara burung di
handphone ku berbunyi, pertanda ada pesan baru. Kulihat, ternyata dari Bram.
Dia mengajakku kencan dan aku bilang akan memberikan jawabannya besok pagi.
Semalaman aku tidak
bisa tidur, terfikirkan apa aku akan terima ajakannya atau menolak. Akhirnya
aku pun mengiyakanikut dengannya hari sabtu itu.
Dengannya aku bebas
untuk cerita apapun, apa semua pria beristri bersikap seperti ini? Sangat
manissss .... sayangnya ini pertemuan yang terlambat ...
Aku ceritakan semua
tentang oom kepada bram, dia membelai rambutku sambil memberantaki tatanan
rambutku. Lalu iya berkata “ kamu jangan begitu, kamu masih muda, perjalanan
kamu masih panjang! Kamu percaya deh! Dia bisa saja sekarang bersikap seperti
itu, dan nanti jika bersamamu diapun bisa saja bersikap seperti itu lagi. Lebih
baik kamu cari pacar yang tidak jauh beda dengan umurmu, dan yang pasti yang
masih single”
Mendadak air mata ini
tak dapat tertahan, aku segera menutup mata dan membelakangi Bram agar ia tak
melihatnya. Tapi tanpa kusangka ia memeluk tubuhku dari belakang. Sungguh
nyaman ...
“janji yah kamu cari
pacar yang benar?” tanyanya. Bibirnya sedikit menyentuh telingaku.
“hmmm ...” aku Cuma
bisa menjawab seperti itu. Please Bram ... jangan buat aku suka kamu!
Setelah itu aku
memutuskan untuk bertemu dengan oom untuk yang terakhir kalinya.
“oom, aku gak janji
bisa seperti ini lagi”
“Loh maksudnya
bagaimana?”
“oom baik-baik ya
sama tante, yang akur, jangan cerai sama tante”
Dari matanya aku
melihat dia masa bodoh dengan kalimatku barusan, rasanya ia memang
mempermainkanku selama ini . kutahan rasa sakit dan amarah ..
Seminggu berlalu, aku
bersikap dingin dan oom pun melakukan hal yang sama. Ingi sekali aku menangis,
aku sudah tak bisa menahan ini dan membiarkan hatiku menjadi rapuh seperti ini.
Seminggu berikutnya
ia bertemu dengan istrinya di Jakarta, ia membuat update via BBM. Sungguh
hatiku terasa tercabik-cabik. Setelah 3 hari bersama istrinya, dan tante pun
telah pulang ke Medan, ia pun menghubungi ku.
Maaf oom, aku sudah
tidak bisa melanjutkan kisah dengan mu, sudah cukup hati Sella tersakiti oleh
oom, Ungkapku dalam hati.
Aku pasrahkan
semuanyam akan kulupakan ia, akan ku mulai lembar baru dalam hidupku. Selamanya
tak akan aku lupakan kenangan manis maupun sikapnya yang menyakitiku ini .
SEKIAN
AFI
DIANAWATI
Komentar
Posting Komentar