MENGAIS MASA LALU

“asikkk … besok kita liburan” teriak anwar. Ia pun langsung heboh dan histeris, ditimpal dengan kelakuan wahyu yang  juga ikut meramaikan suasana parkiran di kampus. Kami adalah mahasiswa/I salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta.

“mama besok jadi ikut kan?” Tanya Wandi kepadaku. Yahh aku kadang di panggil dengan sebutan mama oleh sahabat-sahabatku ini. Namaku Dian. Aku dipanggil mama bukan karena tubuhku yang seperti orang tua kebanyakan. Tapi karena sikapku yang lebih sering untuk menertibkan mereka.

“ikut laaaa .. kan kita mau seneng-seneng ya ma ..” ucap mila. Ia sahabat wanita ku satu-satunya dalam jangkrik. Oya nama persahabatan kami “Jangkrik”. Kami semua dipertemukan dalam satu kelompok ini karena ada tugas mata kuliah yang mewajibkan membuat kelompok presentasi.

“iya” ucapku singkat. Kami memang sengaja melakukan kegiatan liburan bersama minimal 3 bulan sekali, dan kali ini juga bermaksud liburan untuk membuatku kembali ceria.  Lalu terlintaslah bayangan tentang liburanku bersama orang yang sangat kucintai itu.
Saat itu hari sabtu malam kami bertemu di salah satu social media yang cukup popular belakangan ini. Dia pria yang sudah cukup dewasa dan mapan, juga tampan. Namanya Dafa, saat ini dia bekerja sebagai manajer marketing dalam suatu perusahaan plastic.

“jadi kapan kita ketemu?” tanyanya dalam chat.

“hari jum’at aja, aku libur kuliah” jawabku. Kita saling bercakap panjang malam itu melalui chat, menceritakan segalanya. menanyakan rumah, pekerjaan, kuliah, sampai dengan kisah cinta. Dia cukup asik dan juga menarik. Aku yang memang sedang butuh teman curhat pun akhirnya larut dalam percakapan tersebut.

Ternyata disela percakapan itu, dia mencari tahu banyak tentang ku. Dia memasukan nama lengkapku dalam kolom pencarian di internet, dan munculah semua tentangku. Mulai dari facebook, twitter, instagram, blog, dan juga yang lainnya. Dia semakin penasaran dengan kehidupanku.

“kalau gitu kita bertemu hari senin saja, aku jemput kamu di kampus jam 9 malam ya, abis itu kita cari makan dan segera mengantarmu pulang.”

“eh kok jadi senin? Itu terlalu malam” kataku.

“gak apa, kita kan Cuma pergi makan, dan nanti kita juga makan yang dekat dengan kampusmu saja.”

“baiklah.” jawabku.

Aku memang tergolong cepat akrab dengan pria. Bukan karena aku genit atau apapun, aku hanya nyaman berteman atau bersahabat dengan mereka. Pria itu simple, tidak terlalu ribet seperti wanita.

Di senin pagi dia sudah menyapaku, dan kami lertibat dalam percakapan seru. Yahh, percakapan standar yaitu masih perkenalan, tapi sangat seru saat itu.

“ok, nanti aku jemput di kampus ya. Nanti aku bbm jika sudah sampai”  ucapnya 

mengakhiri percakapan kami. Aku pun mengiyakan dan kembali lagi dengan pekerjaanku.
Malam hari saat aku di kelas, terdengar bunyi ponselku. Akupun segera membuka dan membacanya “aku sudah di depan kampusmu ya ..” deggg .. tiba-tiba rasanya ada yang aneh dalam dadaku. Entah takut, senang, penasaran, atau apapun itu.

“ok, tunggu ya. Aku masih di kelas” balasku.

“ok” jawabnya singkat.

Setelah pelajaranku selesai, aku segera berpamitan dengan jangkrik dan bergegas menghampirinya. Diperjalanan dia sering menanyakan kelanjutan dari chatting kami, lebih memperjelas maksudnya. Aku merasa sedikit kaku, tidak tau harus bersikap bagaimana.

Pertemuan malam ini berjalan dengan lancar, kami membahas lebih banyak dari yang diperkirakan. Dia menceritakan kekasihnya, begitu juga aku. Yahh saat itu kami memang sama-sama mempunyai kekasih. hanya bedanya kekasihku terlalu cuek dan tidak jelas mau bagaimana hubungan kami kedepannya. Dan lagi mungkin aku juga tidak terlalu mengharapkannya, karena jujur saja dalam hatiku ada satu nama  dan itu bukan kekasihku. Melainakan orang lain yang sebentar lagi akan menikah.

Orang itu adalah Dika, pria yang aku sayangi melebihi sayangku kepada kekasihku. aku memang lebih lama mengenal Dika, kami sering bertemu untuk hangout dan sebagainya. namun jelas semua ini belum aku ceritakan kepada Dafa, karena menurutku itu tidak penting dan untuk apa Dafa mengetahuinya?

Hari-hari berikutnya Dafa sering menyapaku lewat bbm dan kami jadi lebih akrab. Sabtu ini kami setuju untuk makan siang bersama dan ia pun menjemputku di kantor.

Saat makan siang bersamanya, aku tidak bisa menahan untuk tidak menceritakan segalanya tentangku. Tentang kisah hidupku, percintaanku, kekasihku, dan juga tentang Dika. Ehtah kenapa, aku merasa nyaman, aku merasa didengarkan, dipahami. Saat itu statusku sudah menjadi single, aku sudah putus dari kekasihku hanya karena alasan Long Distance Realitionship. Namun tak  ada rasa sedih atau apapun, yang ada didalam pikiranku hanya ada Dika, yang seharusnya aku lupakan.

Dafa pun mulai larut dalam kisahku dan dia memutuskan untuk selalu menjagaku, dia tidak rela hatiku disakiti oleh orang seperti Dika. Mulai saat itu kami menjadi dekat, dan sangat dekat sampai akupun tidak tau status kami hanya teman atau lebih dari itu.

Satu bulan berlalu dengan dibanjiri perhatian oleh Dafa, namun hatiku belum bisa terbuka untuknya. Aku masih menyayangi Dika. Sampai akhirnya Dika memberikan undangan pernikahannya kepadaku. Aku merasa cukup sakit, aku bertekat untuk tidak datang ke pernikahannya dan aku harus meninggalkan Jakarta untuk tanggal tersebut.

Aku menceritakan masalah ini, masalah aku tak mau datang, dan aku ingin keluar kota kepada Dafa. Dan ia support. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Semarang bersama teman-teman SMK ku . saat aku di Semarang, Dafa selalu menanyakan kabar dan semua aktivitas yang aku lakukan disana.

Merasa akan ketulusan hatinya, aku mulai membuka hati untuknya yang aku sendiripun tau bahwa ini tidak baik dan tidak benar, karena dengan begitu aku telah menyakiti kekasihnya.

Beberapa bulan berlalu, Dafa sangat memperhatikanku. Semua kegiatanku, apapun yang aku lakukan secara langsung maupun secara online, semuanya dia harus tau. dia semakin jauh akan sikapnya dan pada akhirnya dia menjadi sangat posesif kepadaku.

“aku Cuma mau kamu tidak boleh berhubungan dengan mantan-mantanmu, tidak boleh bertemu berdua sama pria lain kecuali jangkrik, tidak boleh chating/ merespon / membuka peluang untuk pria lain hanya untuk bisa menipumu. Terutama dengan Dika” ucapnya

Aku menyetujui nya, karena aku tau itu untuk kebaikanku juga, dan aku mulai menikmati sikap posesifnya.

Suatu hari, hari minggu. Aku diminta menemani teman ku yaitu Ferry bertemu dengan temannya untuk membahas suatu pekerjaan baru yang mungkin menjadi peluang usaha untukku juga. Aku ragu untuk menyetujuinya, karena Dafa pasti akan tidak suka untuk hal ini. Aku ingin sekali bbm ataupun telepon dia sebentar hanya untuk meminta izin, namun aku tidak bisa mengganggu hari minggunya yang pasti sedang dia lalui bersama kekasihnya. Akhirnya aku memberitahu salah satu temanku agar dia bisa menolongku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Keesokan harinya, aku menceritakan semuanya kepada Dafa, namun dia tidak bisa menerimanya. “kamu itu sudah melanggar komitmen kita” katanya.

“aku tidak melanggarnya, aku berempat, tidak hanya berdua dengan Ferry” belaku sedikit kesal.

“iya berempat disana, tapi dimobil kan kamu cuma berdua sama dia! Aku mana tau kamu beneran berempat atau kamu kemana aja sama dia” bantahnya, kami saling berdebat dan dia pun tetap tidak bisa menerima perbuatanku ini. Dia memutuskan untuk tidak berhubungan denganku lagi.

Rasanya hancur, rasanya tak kuat menahan air mataku ini. Akhirnya tangisku pun pecah diruang kerjaku. Yahh kami hanya chating saat itu. Dan akhirnya aku memohon untuk bisa bertemu dengannya walau untuk terakhir kalinya.

Kami sepakat bertemu hari selasa untuk membicarakan secara langsung hal ini, dia menjemputku dan kami menuju ke ancol. Di sana dia berkata sangat menyakitkan, dia berfikir buruk tentangku, dia tidak mau mendengarkan penjelasaanku dan melihat dari sudut pandangku. Dia menghapus semua kontakku dari handponenya, lagi-lagi aku menangis karenanya. Saat itu aku lagi sayang-sayangnya dengan dia, setelah beberama lama aku mencoba membuka hati untuknya dan saat semua itu berhasil, dia ingin meninggalkanku. Apakah ini adil?

Aku diaantarnya pulang dengan mata sembab karena terlalu lama menangis, di rumahku ternyata sudah ada beberapa anak jangkrik. Mereka menghiburku dan tetap mesupportku agar tetap menjadi Dian yang kuat. Aku tidak boleh seperti ini, aku tidak boleh menangis hanya karena pria. “kan ada kita, jangan nangis. Nanti kita jalan-jalan ya, kita seneng-seneng, kita lupain dia. Ayoo senyum dong …” hibur Wandi. Mendengar perkataannya, bukannya tenang namun tangisku semakin menjadi dan susah untuk dihentikan.

Akhirnya hatiku mulai terasa tenang karena terus-terusan dihibur oleh jangkrik. Namun setelah mereka pulang, lagi-lagi aku merasa sangat buruk, sangat down. Aku tidak sanggup untuk kehilangannya. Sepanjang malam aku habiskan hanya untuk menangisinya. Aku tidak tau harus bagaimana, akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan padanya.

“maaf kalau aku belum hapus nomor kamu, aku bener-bener gak sanggup.  aku mohon jangan tinggalin aku. Aku sayang banget sama kamu, kamu tau gak? Aku kesiksa banget saat ini.  Aku ngerasa rapuh banget. Please jangan tinggalin aku. Aku mohon … kalau kamu mau tinggalin aku, boleh. Tapi jangan sekarang. Aku belum siap, kamu tinggalin kalau aku sudah tidak terlalu sayang sama kamu ya. Kamu perlahan perginya, jangan seperti ini.  Aku sayang banget sama kamu”

Keesokan harinya aku bangun dengan mata yang super duper sipitnya akibat kelamaan menangis, aku liat handphone dan terdapat balasan darinya.

“iya cinta, kita mulai dari awal lagi ya”

Aaaaaa … senyumku melebar sampai mataku berlinang, rasanya bahagia banget. Aku yang sudah niat tidak masuk kantor akhirnya langsung bergegas mandi saking semangatnya. Dan hariku berjalan dengan sempurna karenanya.

Beberapa bulan berikutnya hubungan kami semakin harmonis, semakin tak bisa dipisahkan.  Dia mempunyai ide untuk kami berlibur bersama. Dia memintaku mengajak Isna (sahabatku dikantor) dan kekasihnya isna. Akhirnya kami berempat sepakat pergi ke puncak. Disana dia sangat memanjakanku, dia sangat mengistimewakanku. Namun rasa raguku selalu ada. Aku selalu menganggap bahwa dia tidak mencintaiku. Aku sering kali berubah menjadi jutek jika otakku berpikir bahwa dia hanya mempermainkanku.

Sepulang dari puncak isna berkata “dia keliatan sayang banget tuh sama lu, sampe semua-muanya yang lu minta dilakuin sama dia. Sikap dia itu bener-bener nunjukin kalau dia beneran mencintai lu”

“masa si?” tanyaku.

“emang lu gak ngerasa?” Tanya isna.

“gak tau ya na, kadang gue ngerasa dia sayang banget , kadang juga engga. Gue masih sering keingetan kata-kata dan sikap dia waktu kita bertengkar di ancol” mataku mulai berkaca.

“yahh itu si menurut gue ya, gue si liat dia beneran sayang sama lu”

Dirumah aku terus kepikiran kata-kata Isna, apa benar dia mencintaiku? Sekarang aku merasa sangat jahat karena tidak percaya dengan cintanya. Aku langsung mengambil Handphone dan mengirim pesan lewat BBM bahwa aku meminta maaf karena telah meragukannya, dan aku mencintainya,

Hubunganku dengan Dafa sudah menginjak diumur 7 bulan, tidak lama dan tidak sebentar juga menurutku. Perasaanku semakin dalam dengannya. Dan semakin besar rasa takut akan kehilangannya.

Aku menjadi Dian yang pencemburu, setiap kali jika ia tidak sengaja membahas kekasihnya, sikapku menjadi sedikit jutek. Aku cemburu dengan kekasihnya. Yahhh aku sangat cemburu, aku mulai tidak rela untuk berbagi kekasih.

Karena sikapku ini, Dafa mulai sedikit tidak nyaman. Ia tidak suka jika aku cemburu dengan kekasihnya. Dia berkata sesuatu yang sangat menggores hati. Sangat menyakitkan dan sangat menghancurkan hati.

Aku teringat saat aku bertanya padanya, “Seberapa besar kamu mencintaiku?” dan dia pun menjawab “aku mencintai kamu sama besarnya seperti aku mencintai dia”. Aku senang atas jawabannya. Namun semua hancur, aku mulai berpikir bahwa selama ini semua kata sayangnya hanyalah omong kosong. Dan kepercayaanku hilang total saat dia berkata seperti itu.  Berkata dengan kata-kata ‘saya’ yang mengartikan kami sudah tidak ada hubungan apapun dan kami sangat berjarak.

Aku sangat kecewa atas sikapnya, aku merasa cintaku hanyalah sia-sia yang memang dari awal hanya untuk dipermainkan olehnya. Aku merasa marah, aku merasa sakit, aku merasa tak berarti. Saat dia cemburu, aku selalu menjelaskan dan selalu menenangkan hatinya bahwa aku mencintainya. Namun apa yang dia lakukan saat aku cemburu? Dia tidak berpikir sedikitpun akan perasaanku. Dia cuek, dia merasa masalahnya Cuma karena aku yang terlalu pecemburu dan itu salahku. Aku tidak bisa berkata apapun, cukup aku yang merasa sakit hati, tak perlu aku menjelaskan betapa hancurnya perasaanku. Biarkan dia selalu didunianya, didunia yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, tidak pernah merasakan ketulusan orang lain.

Akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri semuanya, tidak ada lagi komitmen antara kita. Dia membebaskanku untuk berteman dengan siapa aja, dan aku menyetujui tidak akan menggagunya lagi. Namun jika suatu saat nanti ada hal yang penting, kami sepakat untuk tetap bisa dihubungi.

Dari sana aku belajar banyak akan sebuah cinta, ketulusan dan juga pengorbanan. Aku tidak tau sampai kapan perasaan ini ada dalam hatiku, namun aku percaya bahwa ini semua sudah menjadi bagian dalam takdirku.

Sampai sekarang aku masih sangat mencintainya, dan selalu meneteskan air mata jika teringat kenanganku dengannya. Kadang aku berpikir, bagaimana bisa aku hidup tanpa cintanya? Tapi aku harus kuat, aku tidak boleh terlihat lemah oleh siapapun. Aku selalu coba untuk menyibukkan diri dan menghibur diri. Tak tau sampai kapan aku terus berpura-pura seperti ini.

“mama … kok bengong begitu si?” Tanya mila sambil memegang pundakku. Aku pun sedikit terkaget dan sadar dari lamunanku.

“ayo la maa .. keep strong! Kan ada kita!” ucap wandi.


“gue bahagia punya kalian krik …” ucapku. 




SEKIAN


AFI DIANAWATI



Komentar

Postingan Populer