Will you marry me ?
Semua
berawal pada saat dimana aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupanku yang
lama. Meninggalkan besarnya harapku padanya, dan meninggalkan bekas yang
mungkin sulit untuk kuhilangkan.
“jadi
apakah ini hari terakhir untuk kita bertemu?” isakku.
“aku
maunya seperti itu, aku rasa ini yang terbaik untuk kita” jawabnya.
Sangat
perih rasanya, walaupun aku tau ini memang yang terbaik, dan ini yang ingin aku
lakukan sejak dulu. Aku ingin melepasnya, namun rasa hati belum sanggup untuk
kehilangannya. Dan pada akhirnya sebuah kesempatan terbuka lebar. Tuhan telah
memberikan aku kesempatan untuk dapat memperbaiki diri dengan melepasnya dalam
hidupku.
“tapi
aku gak mau kalau setelah ini kita jadi seperti orang yang gak kenal” jawabku,
saat itu aku masih menangis.
“yah
engga lah, aku juga gak mau seperti itu. Bagaimanapun kamu adalah orang yang
harus aku pedulikan. Kalau kamu butuh apapun, bantuan apapun, kamu cukup
hubungi aku.” Ucapnya dengan lembut yang semakin membuat diri ini tak bisa
menahan air mata yang lebih deras.
Mungkin
aku termasuk wanita yang tercengeng, lemah, dan lainnya. Tapi inilah aku. Aku
tidak dapat membohongi apapun saat bersamanya, rasa ini murni. Rasa kehilangan
yang teramat dalam, rasa hampa yang langsung masuk kedalam rongga-rongga hati, dan
rasa akan takut yang semakin berkembang.
Aku
takut apa? Aku takut bahwa aku tidak dapat melihatnya lagi, tidak dapat membuat
cerita lagi, tidak dapat mendengar suaranya lagi. Tapi sekuat tenaga, aku coba
positif, aku coba ambil hikmahnya. Aku sadar Tuhan tidak menciptakan kita untuk
bersama.
“baiklah,
aku sudah baik-baik saja dan sekarang aku bisa pulang. Sudah tidak ada lagi
nama cinta. Jadi mulai sekarang panggil aku Tara. Aku akan anggap kamu sebagai
keluarga aku, dan kita akan bertemu lagi saat aku sudah jadi pramugari seperti
yang kamu inginkan. Aku akan membuat kamu bangga karena telah mendidik aku
selama ini.” Hatiku mulai sedikit tenang, aku selalu mencoba berfikir positif
dan terus berfikir positif.
“iya
.. aku akan tunggu kamu dipenerbangan, semoga kita bisa satu penerbangan. Buat
aku bangga karena telah kenal kamu. Dan semoga kamu bisa mengejar semua
cita-citamu.” Timpalnya.
Yahh
sebut saja di Mr … dan itu adalah hari terakhir dimana aku melihat wajahnya,
mendengan suaranya, menyentuh tangannya. Dan itu adalah ciuman terakhir yang
aku terima, ia mencium keningku dengan damai, ciuman persahabatan.
Untuk
informasi saja, saat itu aku telah divonis oleh dokter mengidap suatu virus.
Yah virus yang tidak berbahaya, namun menyerang psikolog si penderita.
Aku
merasa tidak semangat untuk hidup, karena tidak mudah untuk melalui semua ini
sendirian. Aku tidak dapat cerita kepada siapapun, karena aku tidak ingin orang
lain merasa khawatir denganku. Pada akhirnya aku mengunjungi klinik dan
mengeluhkan semuanya. Ingin rasanya menangis didepannya. Namun sungguh dokter
tersebut benar-benar membuat hatiku merasa membaik, merasa mempunyai semangat
baru untuk menjalani hidup ini.
Ia
membuatku semakin kuat, membuatku menyadari bahwa ini hanyalah teguran Tuhan
agar kita menjadi lebih baik. Dokter itupun berkata bahwa aku belum tentu
mengidap virus itu.
Setiap
hari, setiap saat, aku meminum obat yang telah dokter tersebut berikan. Dan
apakah kalian tau? Aku benar-benar merasa baikan, aku semakin merasa sehat.
Pada
saat down, aku memiliki sahabat yang benar-benar ada. Aku tidak punya pilihan
untuk tidak menceritakannya, karena aku butuh tempat untuk bersandar. Aku juga
punya keluarga yang benar-benar tulus mencintaiku.
Dan
dimana saat umurku genap 21 tahun, aku berbincang dengan orang tuaku.
“bu, pak
..” isak tangisku mulai terdengar.
“kenapa
kamu nak?” Tanya ibuku dengan heran.
“maafin
Tara, umur Tara sekarang sudah 21 tahun, tapi Tara belum bisa bahagiakan Ibu
dan Bapak, Tara belum bisa jadi yang terbaik. Dan Tara merasa 21 tahun terakhir
ini Tara sangat jauh dari Tuhan. Maafin Tara karena sering membuat hati Ibu dan
Bapak sakit, masih sering berkata kasar, melawan. Tara mohon maaf Bu .. Pak ..
Tara gak tau apakah besok Tara masih dikasih kesempatan Tuhan untuk hidup” tak
tahan rasanya, aku menangis sejadinya, aku tidak dapat menahan semua gejolak
yang ada didadaku, aku takut meninggalkan keluargaku, aku takut meninggalkannya
saat aku belum bisa membahagiakan mereka.
Sontak
bapakku langsung memelukku, terdengar dari suaranya ada getir lirih menusuk
hatinya “Tara sudah buat Bapak dan Ibu bangga, Bapak bersyukur punya anak
seperti Tara, yang peduli dengan orang tua, yang mau memperbaiki diri dan lebih
mengenal sang pencipta, karena bagaimanapun juga kita akan kembali kepada-Nya.”
Aku memeluk erat tubuh bapakku dan mencium pipinya, aku tau ada tangisan yang
tertahan pada matanya. Namun disebelah kiriku terdengar isak tangis dari bibir
tulus ibuku.
Aku
membalikan diri dan memeluk ibuku, semakin terdengar tangisnya.”selamat ulang
tahun nak” ia kembali menangis.
“maafin
Tara ya bu, terima kasih untuk 21 tahun ini, Ibu dan Bapak telah merawat dan
membesarkan Tara dengan sangat baik”
Ibuku
semakin menangis sampai ia tak dapat berkata apapun. “tolong bantu Tara untuk
lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta, dan semoga keluarga kita bisa
tetap berada dijalan Tuhan.” Kami berpelukan bersama.
Malam
itu adalah malam pertama dimana aku dapat menangis lepas didepan mereka,
meminta maaf dengan tulus dan amat teramat mencintai mereka. Aku menyadari rasa
cintaku kepada mereka sangatlah kurang, aku sekarang barulah menyadari bahwa
mereka adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan berikan kepadaku.
Beberpa
hari telah berlalu, aku melakukan kegiatan yang membuatku semakin bersyukur
atas hidup ini. Aku terus belajar dan belajar agar dapat menjadi pramugari.
Motivasiku bukan lagi untuk membuat ia bangga. Melainkan untuk membuat kedua
orang tuaku bangga. Aku juga mulai serius untuk merintis usaha dengan sahabat-sahabatku.
Yah aku mempunyai usaha travel, dan kami mempunyai mimpi untuk tidak bekerja
dengan orang lain, melainkan untuk membuka lapangan pekerjaan untuk yang
lainnya.
Hari
demi hari aku lewati, dengan kerja keras dan semangat yang setiap saat harus
aku jaga agar tidak luntur. Datanglah hari dimana aku harus operasi untuk
mengangkat penyakitku ini. Aku ditemani dengan sahabatku yang kebetulan sedang
libur kerja. Dengan hati cemas, takut, akhirnya operasinya berjalan dengan
lancar. Sekitar dua minggu masa pemulihan, harus terus minum obat dan makan
makanan bergizi, tidak lupa untuk olahraga dan istirahat yang cukup. Dan
sekarang aku sudah bebas dari penyakit tersebut. Aku sangat bersyukur atas
nikmat Tuhan yang telah Ia berikan kepadaku.
3
bulan kemudian, setelah hari raya idul fitri. Aku coba untuk melamar di
beberapa maskapai tanah air, dan mencoba peruntungan disana. Sambil menunggu,
aku tetap melakukan pekerjaan yang terbaik di perusahaan bekerjaku sekarang.
Disana aku juga punya teman yang selalu dukung, selalu memberi masukan-masukan
positif.
Sudah
sekitar 6 bulan aku tidak bertemu dengan Mr. Jangankan bertemu, tahu kabarnya
pun juga tidak. Sedikit rasa cemas, namun aku hanya dapat berdoa agar dia tetap
selalu dalam lindungan Tuhannya. Yahh .. kita berbeda keyakinan, itu yang
membuat kita tidak akan pernah bersatu.
Tak
disangka, dua minggu kemudian ada panggilan masuk dari salah satu maskapai
ternama yang merajai di tanah air. Aku diterima dalam pekerjaan itu dan
diberikan sekolah pramugari selama tiga bulan. Senang rasanya, aku dapat memberikan
yang terbaik untuk keluargaku.
Sempat
terfikir juga untuk memberikan kabar bahagia ini kepada Mr. namun aku harus
tetap kuat dan berpegang pada komitmen kita, jika Tuhan berkehendak kita
bertemu maka kita akan dipertemukan kembali walaupun bukan sebagai sepasang
kekasih.
Selama
menjalani pendidikan disana, aku masih menyempatkan diri untuk mengurus usahaku
dengan sahabat-sahabatku ini, kami telah mempunyai web sendiri untuk travel
ini, dan tidak dipungkiri travel kami semakin berkembang dan mulai dikenal
banyak orang. Kami tetap melakukan inovasi-inovasi dan selalu mencari tempat
wisata baru agar customer kami tidak pernah merasa bosan dan pindah ke lain
hati.
Saat
melakukan perjalanan untuk menemani customerku berkunjung ke Belitung, aku
bertemu dengan copilot. Aku yang saat itu sedang libur bekerja, maka
menyempatkan untuk bergabung menjadi tour leader yang saat itu diadakan oleh
travel kami. Copilot tersebut tersenyum ramah.
“siang
mba, sepertinya wajahnya gak asing. Kaya pernah lihat” sapa copilot tersebut.
“hah
masa si mas?” jawabku. Karena aku kan masih pemula dan pemain baru di dunia
penerbangan, jadi tidak banyak mengenal orang. Karyawan satu maskapai aja belum
kenal dan tau wajahnya semua, apa lagi dari maskapai lainnya.
Awalnya
aku tidak tau bahwa ia adalah copilot dipesawat yang akan aku tumpangi, tetapi
saat sampai di bandara Tanjung Pandan tak sengaja kami bertemu kembali.
Akhirnya kami melakukan sedikit perbincangan dan ku tau sekarang namanya adalah
Agav.
Namanya
yang unik dan sedikit sulit diucapkan menurutku, tetapi orangnya asik. Tak lama
aku berpamitan padanya, sayangnya kita belum sempat bertukar kontak.
Selama
di Belitung kami semua merasa senang, perjalanan 3 hari ini berjalan sangat
lancar, banyak kesan-kesan gembira yang kami dapat dari customer yang membuat
kami semakin semangat dalam menjalankan travel ini. Dan kabar yang paling
mengejutkan yaitu partner travelku yang bernama Mila menemukan sang pujaan
hati. Lelaki itu baik, dan memiliki pribadi yang menarik.
Esok
harinya setelah pulang aku mendapatkan jadwal terbang ke Medan. Pagi-pagi
sekali aku sudah bangun dan siap-siap. Kalian tau? Aku bertemu dengan copilot
itu lagi. Apa ini jodohku?
“Hi
Tara” Sapa Agav.
“Hi
Agav, wah bertemu lag kita”
“iya
nih, mungkin kita jodoh” candanya. Sesaat pipiku bersemu merah. “jadi kamu
pramugari?” lanjutnya.
“eh
iya, baru. Masih junior”
“hmmmm
… pantas rasanya aku pernah melihat kamu”
“jadi
hari ini terbang kemana?” tanyaku.
“nanti
jam 11 siang ke Surabaya” jawabnya sambil melihat jam tangannya.
Agav
ini tidak tampan, tapi good looking. Dan kharismanya itu lhooo yang bikin ia
semakin terlihat menakjubkan.
“oya,
boleh aku minta kontakmu?” tanyanya.
“tentu”
aku menyebutkan nomor handphoneku.
Sejak
saat itu kita semakin dekat dan menjadi sangat dekat. Tepat di tanggal 12
Januari ia menemaniku kerumah sahabat lamaku. Sebenarnya tanggal itu aku ada
penerbangan dari Sulawesi tetapi untung saja jam 9 malam sudah sampai Jakarta.
Disana
aku melihat sahabat lamaku semakin baik, ia mempunyai banyak teman. Setelah acaranya
selesai, Agav menginap dirumahku karena sudah sangat malam dan kebetulan besok
kita berdua sedang off.
Agav
tidur dengan kakakku, orang tua ku sudah sangat akrab dengannya. Itu semua
karena Agav sering sekali mengantarku pulang.
Satu
minggu berlalu, tiba-tiba saja aku ditegur oleh seniorku. Bingung yang aku
rasakan saat itu.
“Tar,
kamu ada hubungan apa dengan Agav?” Tanya mba Tari. Ia wanita yang cantik namun
sedikit sensitive.
“sekarang
ini aku hanya teman saja mba. Ada apa?” tanyaku.
“apa
kamu sengaja dekat dengannya untuk menaikan popularitasmu?”
“maaf
mba, gak sama sekali aku kepikiran itu. Aku hanya nyaman” belaku. Dalam hati
bingung apa yang mba Tari maksud. Pembicaraan ini membuat aku berfikir bahwa
Mba Tari suka dengan Agav. Tapi apa dia takut ada saingan popular? Semoga aja
tidak.
Hari-hari
terlewati, entah sejak kapan mba Tari mulai menjadi baik kepadaku. Entah ingin
menyelidikiku atau bagaimana. Namun semakin lama ia menjadi baik dan sangat
baik.
Horeee
… hari ini adalah hari dimana aku dilahirkan. Usiaku sudah genap 23 tahun. Aku pulang
kerumah dan kulihat terdapat bunga-bunga dilantai yang mengarah ke kamarku. Aku
tidak tau ini kerjaannya siaoa, tapi melihat ini sudah membuat senyumku
mengembang. Saat aku membuka ppintu kamarku langsung saja kudengan teriakan
yang sangat-sangat kencang “SELAMAT ULANG TAHUN ….” Diikuti dengan
tiupan-tiupan terompet kecil. Aku terharu dibuatnya. Kulihat ada
sahabat-sahabatk, baik itu Jangkrik, penerbangan maupun Isna dan tak lupa ada
Agav juga. Padahal kemarin Agav bilang ada penerbangan dan baru bisa pulang
lusa. Ternyata dia hanya menggodaku saja.
Kupandangi
sekeliling kamarku, banyak kelopak bunga mawar dan balon-balon di setiap sudut
ruang juga rombe-rombe khas ulang tahun anak kecil. Kulihat ada tiga kue yang
diletakan di atas ranjangku juga dan 1 kue yang dipegang oleh Agav.
Sesaat
kita melakukan party kecil-kecilan, saat semua selesai. Agav menyatakan perasaannya
padaku dan akupun tak kuasa untuk menolaknya. Jadi mala mini kami resmi menjadi
sepasang kekasih.
1
bulan … semua berjalan lancar
3
bulan .. kami semakin harmonis
6
bulan .. sikap Agav menjadi sedikit cuek, entah ada apa
Hingga
suatu hari saat aku menjadi awak kabin yang hendak ke Singapura aku bertemu
dengan Mr. ini benar-benar shock terapi. Saat aku sudah lupa dengannya, kenapa
kami harus dipertemukan kembali? Oh Tuhan …
Ia
bersama istrinya yang ternyata sudah mempunyai satu anak. Saat itu juga otakku
mengingat masa-masa indah saat bersamanya.
Ia
menyapaku, menanyakan kabarku dan ia pun mengenalkan istrinya padaku. Ada senyum
bangga darinya, namun ada sorot mata yang tersirat dari tatapannya.
Sekitar
3 hari kemudian dia menghubungiku dan mengajakku makan siang bersama. Ia ingin
tau perjalananku selama ini. Tentu saja aku menceritakan kejadian ini ke Agav.
Tetapi
reaksi agav benar-benar diluar dugaan. Ia marah dan berfikir macam-macam.
“oh
jadi gini? Kamu berhubungan lagi sama mantanmu itu?”
“bukan
seperti itu, silahkan kamu baca chat kami. Atau kita bertemu dengannya” belaku.
“halahhh
untuk apa? Udah juju raja, kamu ingin kembali kan? Kamu masih ada rasa kan sama
dia?” tuduhnya. Sejujurnya ada sedikit rasa itu.. tuduhan agav benar. Namun saat
ini aku jauh lebih mencintainya dari pada Mr.
“kamu
ini kenapa si? Dia itu sudah menikah! Gak mungkin aku kembali dengannya!”
nadaku menjadi tinggi.
“jadi
kalau dia belum nikah berarti kamu mau dong?” Ungkapnya yang semakin membuatku
naik darah. “sudahlah lakukan saja yang kamu mau. Aku sudah tidak peduli lagi.”
Lanjutnya. Ia pun meninggalkanku, sesaat rasa sesal benar-enar menghampiriku.
Dua
bulan kemudian kami masih menjalani hubungan, namun semakin lama sikap Agav
semakin berubah. Selalu ada alas an dan menjadi jarang bertemu denganku.
Seminggu
penuh aku menyelidikinya dengan dibantu Mba Tari. Yah tepat sekali, ternyata
Agav punya hubungan special dengan salah satu pramugari dari maskapai yang sama
dengannya.
“gimana
kalau kita pergokin dia aja Tar?” Tanya mba Tari.
“aku
ikut aja mba, menurut mba yang terbaik aja.” Aku langsung tidak semangat saat
itu juga.
Mba
Tari mengatur semuanya, mencari informasi lebih detail lagi mengenai hubungan
Agav dengan wanita itu. Jujur aku salut dengan mba Tari, dia yang awalnya jauh
denganku sekarang benar-benar ada disisiku.
Semua
telah diatur dan berjalan dengan rencana. Aku memergokinya sedang check out di
salah satu hotel yang ada di Tangerang Selatan. Air mataku seakan tak mampu
untuk dibendung.
Agav
melihatku kaget. Sontak ia melepaskan pegangan tangan dari wanita itu. Sedangkan
aku hanya diam disana dan segera ingin pergi dari hadapan mereka. Aku mengenal
wanita itu dan iapun sebenarnya tau bahwa Agav miliku.
Agav
langsung berlari dan memangilku. Tatapan kosong yang aku berikan padanya.
“Sayang,
aku bisa jelasin ini semua” ia terlihat panik. Ia menggenggam erat tanganku. Dan
kulihat jauh dibelakangnya wanita itu senyum dengan penuh kemenangannya.
“aku
percaya kamu, aku mau pergi sekarang. Kamu gak perlu khawatir dan berfikir
macam-macam. Aku baik-baik aja” aku senyum dan melihat tatapan bingung darinya.
Dua
hari aku masih menjalankan komunikasi dengan Agav. Ia menjadi sangat-sangat
perhatian, mungkin karena rasa bersalahnya. Namun rasa ini telah hilang, rasa
dimana aku percaya untuk memberikan hatiku lagi dengannya. Aku memutuskan untuk
menyudahi hubungan ini.
“Agav,
aku ngerasa sekarang saatnya kita sudahi semua ini. Kita sudah gak cocok. Tujuan
kita sudah berbeda. Dan aku ingin mencari orang yang sekarang memiliki tujuan
sama denganku. Jadi sekang kita berteman saja ya” ucapku tenang.
“maksud
kami?” agav sedikit tertegun. “aku rasa kita baik-baik aja sekarang ini. Aku mau
kamu, jangan tinggalin aku. Aku janji gak akan lakuin macem-macem lagi. Aku serius
sama kamu sayang” pintanya.
Ingin
rasanya aku memberikan kesempatan untuknya, namun hati ini sudah tidak lagi
bersamanya. Aku tidak tau apakah benar perkataannya, namun aku sudah memutuskan
dan sudah memikirkan ini selama dua hari.
Hari
ini berlalu dan Agav tidak bisa merubah keputusanku. Namun agav selalu mencoba
untuk menghubungiku.
Tiga
minggu kemudian aku mendengar kabar bahwa Agav berpacaran dengan wanita itu. Beberapa
kali Agav menunjukan kemesraannya di depanku. Aku coba untuk tidak
menghiraukannya.
Suatu
hari aku ada penerbangan ke Malaysia dan tak sengaja berpapasan dengan wajah
yang taka sing bagiku. Ia adalah Ardian. Teman lamaku di Bandung. Sebenarnya dulu
kita pernah sangat dekat, namun sudah tidak pernah lagi saling komunikasi. Akhirnya
kita bertemu dan sedikit melakukan perbincangan. Saat hendak pamit ia menanyakan sesuaitu padaku.
Aw
.. rasanya jantungku mulai tidak terkendali. Pendengaranku mulai bermasalah. Apa
ini benar?
“apa?”
tanyaku meyakinkan.
“will
you marry me, Tara?”
“please
..” sambungnya.
Sesaat
aku terdiam, campur aduk. Ini gilaaaaaa … baru ketemu lagi setelah
bertahun-tahun menghilang, dan sekarang aku diajak nikah?
“kembali
ke Indonesia dan datanglah melamarku” ucapku dan meninggalkannya.
Benar-benar
tak kusangka, satu minggu tanpa kabar dari Ardian dan sekarang ia benar-benar
berada di depan rumahku bersama keluarganya. Lagi-lagi aku dibuat kaget
olehnya..
Proses
lamaranpun berjalan dengan lancar. Esok harinya Ardian langsung kembali ke
Malaysia untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia bekerja menjadi Tehnikal dan
perancang pesawat. Dalam lubuk hatiku, aku bangga dengannya. Perjuangan yang ia
lewati tidak sia-sia.
Tak
perlu waktu lama Agav sudah mendengar kabar tentang lamaranku. Ia memaksa untuk
bertemu dan meminta penjelasan dariku. “Apa yang harus aku jelaskan?” tanyaku, Secara
ia kan sudah tak punya hak apapun atas diriku.
“aku
mau kamu batalin lamaran itu, dan menikah denganku.” Desaknya.
“aku
sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang dan aku doakan kamu berjodoh dengan
Meisa” yahh Meisa itu adalah nama wanita itu.
“dia
bukan siapa’siapa. Aku Cuma mau kamu Ra ..”
Perbincangan
saat itu begitu sangat drama, Agav masih keukeuh untuk menikahiku. Bahkan ia
sempat ia ingin bertindak bodoh. Aku coba menenangkannya, aku beri pengertian,
dan akhirnya Agav dapat mengerti dan dengan ikhlas melepasku.
Tiga
bulan kemudia aku menikah dengan Ardian dan hidupku terasa Sempurna …
Sekian
Afi Dianawati
Komentar
Posting Komentar