FWB part 1

“Selamat pagi .. hoammm …” terlihat samar-samar sinar mentari masuk melalui celah jendelaku. “jam berapa ini?” ucapku sambil mengambil ponsel yang terletak diatas meja kecil dikamarku ini. “AH JAM 6?” teriakku kaget melihat layar ponsel. Aku langsung berlari untuk mandi dan bersiap berangkat kerja. Sebenarnya kantorku masuk jam 8.30, tetapi jika aku berangkat lewat dari jam 6 uhhh busway sudah sangat padat dan jalanan jakartapun sangat ramai maklum kota sibuk.
Well .. perkenalkan aku Alessa, biasa dipanggil Ale. Aku saat ini berusia 22 tahun dan bekerja sebagai analis diperusahaan asuransi perbankan.
“Oh Tuhan, semoga gak macet banget hari ini” pintaku dalam doa pagi ini. Aku mengambil kotak makan dan menuangkan jatah sarapanku untuk kumakan di kantor.
Aku sedikit berlari menuju lobby gedung tempatku bekerja. “untunglah masih 20 menit lagi” senyumku terlihat.
Kantorku berada di lantai 10 gedung ini, saat aku memasuki lift ternyata ada satu orang pria mengenakan jas abu-abu sedang mematung dengan tatapan kosong. Tak ingin membuang waktu, setelah sampi dilantai 10 aku langsung keluar dan berjalan cepat untuk menikmati sarapanku ini.
“uh lezat sekali, thanks mom” kukirim pesan untuk mamaku.
Jam menunjukan pukul 11 siang, tiba-tiba datanglah managerku untuk mengenalkan kepada kami bahwa ada marketing pindahan dari cabang yang sekarang bergabung di pusat.
“eh dia kan yang tadi di lift” ucapku dalam hati.
“siang teman-teman semua, nama saya Lexander, kalian bisa memanggil saya Xander. Saya harap kita bisa saling bantu dengan baik demi kemajuan perusahaan ini. Terima kasih.” Ucapnya dengan senyum.
“Ale .. sttt dia tampan ya? Terlihat dewasa lagi, udah nikah belum ya?” ucap mia teman satu teamku.
“huss!! Diam kamu. Nanti dia dengar” timpalku sambil memberi isyarat agar diam.
“Ada yang mau ditanyakan Ale?” suara Pak Michael mengagetkanku.
“eh iya, Pak Xander sudah menikah?” sontak semua teman-temanku tertawa meledekku, begitu juga dengan Pak Michael dan Pak Xander yang terlihat menahan tawa. “eh buka gitu, aduh ..” belaku. Uh seperti biasa kadang mulutku ini suka tidak bisa melihat situasi, aku kan jadi malu.
“Saya belum menikah” Jawab  Pak Xander. “kamu yang tadi satu lift dengan saya kan?” sambungnya sambil menunjukkan jarinya kearahku. Sesaat teman-teman kembali meledekku lagi. Wajahku memerah dan hanya mengangguk karena malu.
Beberapa minggu berlalu dengan kehadiran Pak Xander dikantor ini, perubahan yang ada diruanganku pun sangat terlihat. Dari Mia yang selalu memperhatikan riasannya, Bu Sarla yang sekarang menyemprotkan parfume ke sekujur tubuhnya, sampai dengan Glen yang mulai curi-curi pandang setiap Pak Xander berkunjung ke ruangan.
Glen???
Yes, dia pria yang mempunyai kepribadian seperti wanita, namun kebaikannya tidak perlu lag diragukan. Andai saja ia pria normal pasti banyak sekali wanita yang mengejarnya.
Lalu apa perubahan dari diriku? TIDAK ADA.. aku tetap sama. Aku memang memperhatikan penampilanku, tetapi itu dari dulu buka karena kehadiran Pak Xander dan lagi setelah aku bertkad untuk tidak memikirkan cinta sejak aku bekerja disini, sikapkupun sangat dingin ke pria.  Hanya Glen lah pria yang benar-benar bisa dekat denganku.
Kebetulan hari ini aku tidak membawa bekal, aku berencana makan siang di café sebrang kantorku. “Ale .. mau kemana?” sapa Bu Sarla.
“Ke Glory Bu”
“tumben, mama gak masak ya? Yuk bareng, ibu juga mau lunch disana” ajaknya.
“Ale, kamu kok kayanya gak tertarik sama Pak Xander ya?” Tanya Bu Sarla saat kami jalan di jembatan penyebrangan.
“hehehe Pak Xandernya aja gak tertarik sama saya, jadi buat apa Bu?” tawaku pecah mendengar jawabanku sendiri.
“ah kamu ini.” Balas Bu Sarla sambil memukul pelan bahuku.
Saat kami duduk dikursi café tersebut, kulihat Pak Xander masuk dan membuat jantungku dag dig dug. “Bu Gawat!” ucapku sambil memegang kedua bahu Bu Sarla. “ Itu Pak Xander lihat ke kita” ucapku pelan.
“Bagus dong” ucap Bu Sarla sambil berdiri.
“Pak Xander sini gabung sama kami.” Bu Sarla tersenyum manis dan Pak Xanderpun menganggug menghampiri kami.
“Aduh Pak Xander denger gak ya yang aku bercanda di jembatan?” pikirku panik.
“Ada apa Ale? Apa kamu baik-baik saja?”
“baik pak”
Saat makan berlangsung semuanya aman terkendali, akupun sudah melupakan insiden bercanda dengan bu Sarla tadi. Sikapku biasa saja sekarang. Hanya aku menangkap beberapa kali mata Pak Xander melirik kearahku.
Genap tiga bulan Pak Xander berada di pusat. Sungguh ku akui ia sangat hebat dan keren. Baru tiga bulan ia sudah mendapatkan banyak customer potensial.
Entah mulai kapan Pak Xander menjadi lebih dekat kepadaku. Hingga suatu hari saat aku dan Bu Sarla harus lembur sampai dengan jam 10 malam, Pak Xander dating membawakan kami makan malam. Tentu saja Bu Sarla semakin memuji dia. Uh jika bisa ingin sekali aku membawa suaminya kesini sekarang juga supaya Bu Sarla tidak genit seperti ini.
“Halo .. iya pi .. oh sudah di lobby? Tunggu sebentar ya, mami lagi beres-beres, lima menit lagi turun.” Klik … Bu Sarla mematikan panggilan dari suaminya.
“Yah beginilah nasib jomblo .. kalau lembur taka da yang jemput hiks hiks” batinku mengeluh.
“tenang Ale, nanti kamu saya antar pulang.” Suara Pak Xander membuatku kaget. Apa ia bisa membaca pikiran orang lain? Duh jadi takut.
“tidak usah pak, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri kok”
“udah sama Pak Xander aja, kan searah. Hemat ongkos Ale hehehe.” Ledek Bu Sarla.
“oke tidak ada penolakan untuk tawaran kali ini Ale.” Terlihat senyum diwajah Pak Xander.
Diperjalanan tiba-tiba Pak Xander memegang tanganku. Sontak aku melepasnya karena terkejut.
“maaf Ale, sebenernya saya sudah memperhatikanmu sejak kita bertemu.”
“uh terima kasih Pak”
“Bukan itu jawabannya Ale.” Ucapnya sambil memegang tanganku kembali.
“lalu apa?” tanyaku bingung.
“saya mau kita lebih dari sekedar teman.”
“maksudnya gimana Pak?”
“Saya tau kamu tidak menginginkan pacar/ terikat apapun. Saya sudah banyak tau tentang apapun. Saya sudah banyak tau tentang kamu.” Sejenak Pak Xander berhenti berbicaara dan menarik nafas panjang. “saya juga tidak menginginkan ikatan apapun saat ini, tapi saya tertarik denganmu.” Lanjutnya.
“oh oke.” Jawabku singkat.
“aleeee… berhenti bersikap dingin” ucapnya sambil tangannya menyapu wajah tampan miliknya itu.
“maaf maaf Pak.” Ucapku merasa tak enak.
“saya menginginkan kita menjadi friend with benefit.”
“Apa??? Maaf Pak, saya gak bisa.”
“kenapa Ale?” tanyanya bingung.
“Pak cukup sampai sini, itu rumah saya.” Ucapku mengalihkan pembicaraan.
“baiklah Ale, kita akan lanjutkan nanti.” Pak Xander memberhentikan mobilnya persis didepan rumahku. Dengan segera ia turun dan membukakan pintu untukku.
“Aduh Pak, jangan seperti itu. Saya jadi tidak enak”
“saya senang melakukannya Ale.”
“baiklah terima kasih banyak Pak atas tumpangannya.”
“tidak masalah Ale, mulai besok kita akan selalu berangkat dan pulang bareng.” Tidak ada penolakan Ale.” Ucapnya tegas.
“ah apa ini? Semoga Tuhan melindungiku” ucapku dalam hati. “Baik Pak, saya masuk dulu ya.”
Seminggu berlalu, dan benar saja setiap harinya aku selalu diberi tumpangan olehnya dan itu membuat seisi kantor bergosip tentang hubungan kami.
Hari ini aku pulang jam 7 dikarenakan ada tugas dadakan dari Pak Michael. Aku sudah meminta Pak Xander untuk tidak menungguku. Tapi saataku berjalan melewati lobby, terlihat Pak Xander sedang memanahkan senyumnya kearahku.
“kenapa masih disini Pak? Mau ketemu orang?” tanyaku.
“iya. Yuk pulang.” Ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Diperjalanan ia membelokan mobilnya kearah lain. “kita mau kemana Pak?” tanyaku.
“kita makan malam dulu ya, saya lapar.”
Setelah menikmati makan malam, Pak Xander memegang tanganku. “Ale, saya sungguh tertarik sama kamu. Please kita coba dulu. FWB itu gak buruk kok. Saya tidak akan mengikat dan mencampuri urusan pribadi kamu. Jadi kita lakukan semuanya hanya sekedar saling membutuhkan. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
“saya tau Pak, tapi saya tidak bisa melakukan lenih jauh seperti FWB kebanyakan.”
“Tidak apa Ale, kita akan melakukan yang lebih saat kamu siap dan kita akan mencobanya perlahan.”
“tapi Pak …”
“sttt … “ Jari Pak Xander sudah mendaratkan jarinya dibibirku membuatku berhenti bicara.
“ingat Ale, saya tidak menyukai penolakan. Jadi mulailah terbiasa dengan ini.” Ucapnya tegas.
“ba ..baik pak” ucapku terbata. Sungguh Pak Xander saat ini sangat bersikap menakutkan.
“hehehe hey Ale, sekarang kamu lebih dari sekedar teman kantor, jadi panggil saya Xander. Tanpa Pak.”
“Uh okay”
“BTW Ale, besok temani saya ya”
“kemana?”

“besok saya ada kondangan. Tapi malas kalau pergi sendiri.”
“baiklah, jam berapa?”
“jam 3 saya jemput ya.”
Sesampainya dirumah aku bingung dengan apa yang harus ku perbuat. Xander memang baik tapi seperti seorang psikopat. “Ya Tuhan …” keluhku.
Jam 3 kurang 15 menit Xander sudah sampai. Kami meminta izin dan segera menuju ke lokasi resepsi.
“kamu terlihat berbeda sekali” pujinya.
Yah saat ini aku mengenakan pakaian yang sedikit terbuka dibagian punggung dan dengan tambahan riasan diwajahku.
Kami sampai di lokasi sekitar pukul 4 sore, menikmati hidangan, berkenalan dengan teman-teman Xander dan berpamitan untuk pulang. Aku kira xander akan langsung mengantarku pulang, ternyata ia mengajakku menonton di mall yang tidak jauh dari sini.
Seperti biasa, kelakuan pria pada umumnya. Mereka akan selalu mencuri kesempatan untuk menyentuh maupun mencium di dalam bioskop.
Sudah hamper 6 bulan hubungan kami seperti ini, kami saling mencium, memeluk, menyentuh. Sampai saatnya aku merasakan hal yang lebih dari sekedar teman.
“ini gak boleh terjadi. Ingat Ale, Xander hanya menginginkan hubungan tanpa rasa!” aku berbicara sendiri. “ ini tidak boleh Ale!!”
Sepanjang hari aku memikirkan hal itu. Kadang tatapanku kosong, kadang sedih, kadag … ah entahlah.
“Hey Ale .. Ada apa?” tiba-tiba Xander sudah ada dimejaku.
“eh tidak apa-apa” ucapku kaget.
“kamu aja gak sadar kehadiranku, ayolah Ale… ceritakan saja. Ada apa?”
“uh aku hanya kurang tidur rasanya” alasanku.
“jadi kamu tidak bisa tidur semalam? Baiklah mulai sekarang kamu tidur denganku.” Ucapnya sambil tertawa bahagia.
“maunya!!” aku pun ikut tertawa dan mulai memukulinya dengan penggaris.
“sudah Ale .. ampun .. aduhhh” tawanya sambil mencoba mengambil penggaris yang ada ditanganku. “ayo kita makan siang.”
“aku bawa makan, kamu duluan aja”
“kalau gitu kita makan bekalnya berdua saja.” Pintanya dengan wajah memelas.
“yah baiklah, silahkan makan Pak.” Ucapku sinis dan ditimpali kecupan di rambutku.
Sejenak aku melupakan kebingungan yang ada dihatiku. Sungguh Xander membuatku merasa sangat nyaman. Hingga suatu hari di hari sabtu kami sepakat untuk makan malam bersama di appartement miliknya. Tentu ini sangat menarik karena kami akan memasaknya bersama.
Jam 4 sore Xander sudah menjemputku dan kami menuju ke swalayan untuk membeli beberapa bahan makanan.
Xander, tolong potong bawang itu.” Pintaku.
“aku tidak bisa, aku bisa menangis nanti.” Tolaknya. Ia pun mengambil minyak dan menuangkannya kewajan. “aku akan goring nugget, kamu iris bawang ya hehe”
“dasar ..” kataku geregetan, ia tersenyum melihatku cemberut.
“hey Ale, tolong kondisikan bibirmu itu! Jangan membuatku bernafsu untuk melumatnya.” Godanya, wajahku pun memerah.
Setelah makan malam, kamipun menonton film action disalah satu stasiun televisi dengan kepalaku bersandar didadanya.
Perlahan ia mengangkat daguku dan mengecup lembut dibibirku. Kecupan tersebut kemudian berubah menjadi lumatan dan gigitan. Akupun terbakar dan membalas ciumannya. Tangannya mulai mencari-cari pengait bra ku. Sampai akhirnya aku hanya tinggal mengenakan CD merah. Yah kami saling menyentuh, mengecup, menjilat.. ini kebutuhan umur produktif seperti kami.
Saat tangan Xander ingin menyingkirkan satu-satunya benda yang ada ditubuhku ini, tiba-tiba rasa ini muncul kembali. Rasa bingung, bimbang, takut, bersalah seketika menyerang hati dan otakku. Yah aku menginginkan lebih dari ini. Lebih dari sekedar teman. Aku menginginkan hubungan nyata, bukan seperti ini.
Aku langsung menghentikan permainan ini dengan berdiri. Ia pun terkejut dengan sikapku “ada apa Ale?” tanyanya.
Kulihat kejantanannya sudah sangat tegang dibalik celana pendek yang ia kenakan itu.
“Maaf Xander, aku tidak bisa.” Ucapku sambil mengambil seluruh pakaianku yang tergeletak di lantai. Akupun bergegas ke toilet untuk mengenakan pakaianku. Terasa sakit… sungguh. Karena rasa ini hanya aku tanpa kamu Xander! Lirihku.
“aku ingin pulang.”
“baiklah.” Ia langsung mengenakan celana panjang dan kaosnya.
“tidak, aku mau pulang sendiri” pintaku.
“tidak Ale, aku akan mengantarmu dan maaf untuk yang tadi. Sepertinya kamu belum siao.”
“Please Xander, kali ini aja.” Pintaku lagi.
“kenapa?” tanyanya
“aku sednag ingin sendiri.”
“baiklah, kabari aku jika sudah sampai. Aku akan mengantarmu ke lobby.”
Sesampainya dirumah aku langsung berpesan untuk tidak ada yang menggangguku dan meminta mama untuk mengatakan bahwa aku sudah tidur jika Xander telepon.
Aku mematikan ponselku dan segera membaringkan tubuhku. “{ah .. apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin terus seperti ini.” Rintihku pelan. Semalaman aku tidak bisa tidur hanya karena ini. Yah aku tidak menginginkan sakit hati. Aku harus sementara menjauh dari Xander Pikirku.
“Ma, aku kerumah tante Lita ya. Tolong bilang jika ada yang cari Ale, bilang aja Ale pergi ya” ucapku ke mama saat sarapan.
“kamu lagi ada masalah dengan Xander nak?”
“gak ada ma.” Jawabku datar.
“kemarin dia telepon dan sepertinya khawatir.”
“oh biarin aja ma.”
“yah kamu sudah besar sekarang, mama pinta kamu dan Xander bisa menyelesaikan masalah dengan bersikap dewasa.”
“iya Ma. Ale berangkat sekarang ya.” Aku pergi ke rumah tante Lita yang berada di bogor. Aku membawa ponselku, namun tidak ku aktifkan dari semalam. Sejenak aku ingin melupakan Xander dan lepas dari jangkauannya.
Aku kembali kerumah sekitar jam 9 malam dan aku melihat sudah ada mobil Xander di halamanku.
“Bagaimana aku menghadapinya Tuhan?” bisikku.
Aku memasang wajah sangat lelah ketika masuk ke rumah. “aku pulang.”
“Ale.. kamu kemana aja? Kenapa gak bisa dihubungi?”
“ah Xander, maafkan aku. Ponselku habis batrai dari semalam. Aku lupa mengisinya dan baru sadar saat dikereta.” Bohongku padanya.
Dia memelukku. “baiklah, kamu terlihat lelah. Segera istirahat. Besok kita harus kerja.”
“baiklah” ucapku singkat. Xander mencium keningku dan pamit untuk pulang.
Keesokan harinya aku bangun sangat pagi. Aku berangkat jam 6 kurang untuk menghindari Xander.
“aku sudah di busway saat ini. Kamu tidak perlu menjemputku. Sampai ketemu dikantor.” Ku kirim pesan untuknya.
Yah aku sudah memutuskan untuk mengakhiri ini. Tidak ada lagi friend with benefit. Aku menginginkan sentuhan penuh cinta, buka hanya sekedar karena nafsu.
“Pagi Ale .. kenapa kamu tinggali aku tadi?”
“aku mau ini berakhir” ucapku singkat.
“apa? Maksud kamu apa?” Xander terdengar emosi.
“aku tidak ingin melanjutkan FWB ini.”
“maaf Ale, sungguh aku tidak akan melakukan hal itu sampai kamu siap. Aku janji.” suara Xander mulai melunak.
“tidak Xander”
“tolong jelaskan, ada apa sebenarnya?”
“kamu bilang tidak akan mengganggu privasi kan? Jadi aku mohon jangan banyak bertanya. Dan mulai sekarang kita hanya partner kerja. Permisi Xander.” Akupun meninggalkannya yang mematung membisu.
“jangan lagi Ale .. aku mohon jangan seperti ini.” Gumam Xander. Aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas .
Setiap saat Xander mencoba mendekatiku dan setiap saat pula aku menjauhkan diri darinya. Teman-temanku pun menjadi merasa iba dengan Xander.
Hampir 1 bulan hubungan kami seperti inimembuat Xander putus asa dan kehabisan cara untuk mendekatiku kembali. Ia menjadi pendiam dan sangat dingin kepada semua orang. Jujur saja, hatiku sakit melihatnya seperti ini. Sungguh cinta ini sangat menyakitkan.
“Ale tolong ke ruangan saya sekarang” ucap Pak Michael.
“Baik Pak.”
“Ale, sebenarnya ada masalah apa diantara kalian?” Tanya pak Michael.
“maksud bapak apa ya?” tanyaku. Aku mengerti sekali pasti ini karena Xander.
“saya lihat kamu dan Xander sekarang kurang kompak, kurang komunikasi dan Xander terlihat sangat tidak baik akhir-akhir ini.”
“saya tidak tau Pak, bapak lihat saya baik-baik saja kan? Berarti yang ada masalah Pak Xander, bukan saya Pak. Maaf.”
“Ale, kamu dan Pak Xander kan sudah sama-sama dewasa. Dan sudah seharusnya kalian menyelesaikan masalah secara terbuka jangan diam-diaman seperti ini. Maaf saya bukan ikut campur masalah pribadi kalian. Saya sebagai teman melihat ini semua merasa sedih. Jadi saya harap kamu bisa bersikap lebih dewasa.” Nasihat pak Michael panjang lebar.
“sampai ketemu besok” ucapku pada teman-temanku. Waktunya pulang ..
Sepanjang perjalanan di busway aku selalu mengingat perkataan Pak Michael. Ia benar, aku harus bersikap dewasa. Tapi mana bisa aku jujur dengan perasaanku ke Xander? Ia tidak menginginkanku. Ia hanya menginginkan tubuhku. Mengingat itu semua, seketika emosiku naik. Jadi apa yang harus aku lakukan? Ayo Ale berpikir!!

*tunggu lanjutannya ya .. FWB PART 2 coming soon

Komentar

Postingan Populer