PHP !!



PHP ? OH NO!

M
alam ini terlihat sangat berbeda semenjak aku berkenalan dengan Ray. Ray adalah lelaki berkulit putih dengan rambut yang agak kecoklatan. Umurnya 19 tahun, hanya beda 2 tahun lebih tua dariku. Dia dulunya adalah kakak kelasku waktu di SMK, namun kami tidak pernah saling menyadari. Aku mengenalnya baru sekitar 1 bulan yang lalu, Saat itu kami tak sengaja berkenalan melalui facebook.
“Mei ... kamu tau gak si apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” tanya Ray kepada aku. Sejenak aku berpikir lalu menggelengkan kepala. “kamu sangat cantik malam ini.” sambungnya.
Well aku merasa seperti ingin terbang, terlihat jelas pipiku yang mendadak memerah. Tapi apa Ray tidak salah ngomong ya? Lihat aku, aku hanya cewek biasa yang tak tau artinya modis. Bahkan aku sering merasa iri dengan cewek-cewek lainnya yang mempunyai wajah cantik dan body language yang indah. Oke kalian tidak boleh meniru sifat burukku yang ini.
“Mei ... Hello Meii” Ray melambaikan tangannya tepat didepan wajahku. Seketika aku mendapatkan kesadaranku kembali. “kamu kenapa bengong seperti ini?”
“a ... ini .. emm aku kaget aja kamu berkata seperti itu” jawabku gugup .
Oke aku memang agak kuper, dikalangan remaja seumurku, mungkin Cuma aku satu-satunya orang yang belum pernah ngerasain apa yang namanya pacaran. Jujur saja, aku kadang merasa minder jika dekat lelaki. Karna itu aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama dengan teman-teman perempuanku. Dan karna itu juga aku belum pernah ngerasain pacaran.
Mendengar pernyataanku barusan, Ray tertawa. Renyah sekali tawanya batinku. Baru kali ini aku bisa sedekat ini berbicara dengan lelaki. Saat tak sengaja tangan kami bersentuhan, aku merasakan hal yang aneh seperti ada sesuatu yang menjalar dalam tubuhku.
90 menit berlalu dengan begitu cepat saat aku dan Ray saling melemparkan pertanyaan ringan. Aku sangat tertarik dengan kehidupannya . begitu menantang dan berani menurutku. Diam-diam aku memandanginya. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan yang paling menggemaskan itu saat dia menaikan sebelah alisnya. Oh sungguh indah ciptaan-Mu.
Tak lama kemudian Ray mengantarkanku pulang dengan scuter maticnya. Oke satu lagi ku jelaskan. Ray mungkin terlihat lebih segalanya dariku. Bukan secara materi, tetapi secara pergaulan. Gaya berpakaiannya itu jika aku perhatikan sama seperti anak zaman sekarang pada umumnya. Dia termasuk lelaki yang mengikuti trand. Dan mungkin jika aku tidak salah menebak dia termasuk kedalam anak community. Mendadak percaya diriku hilang begitu saja.
“ah berpikir apa aku ini?” sadarku ketika scuter milik Ray berhenti tepat didepan gerbang rumahku.
“thank’s for today nona” ucapnya setelah membukakan pintu gerbang rumahku. “apakah boleh seorang Ray mengajakmu keluar lagi?” tanyanya rendah diri.
“tentu” jawabku singkat sambil melemparkan senyuman padanya.
“oke nona trims sekali lagi. Aku langsung pamit pulang saja, nanti akan ku hubungimu” katanya sambil mencium keningku.
Aku terpaku akan perbuatannya. Tidak sopan sekali dia mencium kening orang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tapiii ... ya Tuhan aku suka dengan perlakuannya.
Keesokan harinya aku mendapatkan sms darinya.
     maaf mei aku baru menghubungimu sekarang. Semalam aku ingin sms kamu, tapi takut kamunya sudah tertidur. Aku juga tidak mau mengganggu waktu istirahatmu.
Betapa senangnya aku,oke tapi dia salah akan beberapa hal. Yang pertama semalaman aku menunggu dia memberikan kabar. Dan yang kedua aku tidak bisa tidur semalaman karna terus-terusan terpikirkan wajahnya. Apalagi setelah ciuman itu. Mana mungkin aku bisa tertidur setelah mendapatkan ciuman kening pertamaku.
Dengan cepatnya tanganku mengetik sms untuk membalasnya.
     iya, gpp kok :)
     Mei .. bagaimana jika hari minggu nanti kita jalan keluar lagi?
     oke boleh, aku tunggu jemputanmu
     siap nona :)
            Aku segera menaru ponselku di meja belajar. Ohhh indahnya hidup.

            Sekarang sudah hari sabtu, dan besok aku akan jalan lagi bareng Ray. Well aku sangat-sangat menunggunya. Apa yang harus kukenakan? Pakaian apa yang pantas untukku? Dan pakaian apa yang akan membuatku tampak cantik didepannya?
            Huhhhh ...
            Aku menghela nafas
            “lebih baik aku minta pendapat dari teman-temanku, sekalian ngumpul bareng mereka”
            Tepat jam 7 malam aku menuju ke mall yang telah kami sepakati. Aku, Vera, Linda dan Nia hanya berniat untuk sekedar makan-makan saja disini. Kebetulan sekali cafe yang kami tuju bersebelahan dengan gedung bioskop.
            “Guys .. liat film sebentar yuk. Gue mau tau nih ada film apa aja” Nia mengajak kami semua sambil menarik tangan Linda.
            “Ehh iya .. iya ..tapi gak usah narik-narik begini dong! Malu tau! Tuh diliatin orang banyak” timpal Linda dingin.
            “Lu kenapa si? Padahal gue nariknya juga biasa aja, tapi kok lu sampe sewot begini? Gak asik lu!” balas Nia tak kalah dingin. Ia langsung melepaskan tangannya dan menuju ke gedung bioskop. Aku danVera hanya terpaku melihat kedua sahabat kami bertengkar di tempat ramai seperti ini.
            “ver lu temenin linda dulu ya, gue mau ngejar si Nia” aku berbisik kepada Vera, ia hanya memberikan kode setuju dengan jempolnya.
            Sebenarnya aku lagi malas banget untuk menginjakan kaki ke gedung bioskop. Entah mengapa ....
            Aku mulai masuk kedalam gedung tersebut, mataku terus mencari-cari sosok gadis bertubuh mungil itu. “ahhh .. kemana sih ni anak?” dumalku sendiri. Aku terpikir untuk mencari dia di toilet. Dan tepat sekali tebakku, kudapati dia dalam keadaan eye linearnya yang sedikit luntur karena air matanya.
            “Sudahlah Nia, jangan nangis begini” ucapku sambil menghapus air matanya.
            Well Nia itu memang paling cengeng diantara kami berempat, kadang aku berpikir kapan air matanya akan habis? Bosan kalau terus-terusan melihat ia menangis. Sedangkan Linda orang yang super duper jutek. Tapi gak setiap saat kok, tadi dia bersikap begitu karna sedang ada masalah aja. Nah kalo Vera, dia seperti malaikat di tengah-tengah kami. Baik, pengertian, pokoknya beruntung banget aku bisa punya teman seperti dia.
            “Tapi gue sakit dibentak Linda seperti itu Mei!” bantahnya.
            “iya gue ngerti. Tapi lu kan juga tau sifat dia kaya gimana? Yah kita harus saling mengerti aja. Lu juga bukan pertama kalinya kan digituin sama dia? Kita temenan udah lama, masa lu masi enggak ngerti sih?” kataku panjang lebar, berharap mereka segera berbaikan. Kalo tidak, bisa gagal rencanaku untuk menanyakan pendapat mereka tentang Ray.
            Nia mencari sesuatu didalam tasnya, ia mendapatkan selembar tissue dan segera menghapus air matanya.
            Kini Nia sudah baikan dan kembali ceria lagi. Aku dan Nia langsung meninggalkan gedung bioskop ini menuju ke cafe yang ada di sebelahnya. Ku lihat disudut ruangan sudah ada Linda dan Vera yang telah menunggu kami. Aku dan Nia pun menghampirinya.
            Singkat cerita kami pun larut dalam makanan dan ceritaku tentang Ray.
            “Cieee ... Meiii kayanya lu bakalan ditembak deh sama Ray hari minggu nanti” ledek Vera sambil mencolek pinggangku. Pipiku langsung memerah entah karena geli atau malu.
            “akhirnya Mei-Mei bakalan punya pacar  juga” ucap syukur Linda. Tapi terdengar seperti penghinaan menurutku. Ahh tapi bodolah.
            “haha .. iya iya tapi jangan sampe lupa kenalin ke kita-kita ya!” lanjut Nia.
            “Pasti dong” jawabku bersemangat.
            Kami segera menghabiskan makanan dan segera membayarnya. Tak terasa sudah pukul 21:10 . kami segera memutuskan untuk pulang. Karna jarak dari mall ke rumah kami cukup lumayan.
            “Nia, jadi lihat film gak? Ayo gue temenin” tawar Linda. Ternyata Nia mau. Oke pulang agak malaman gakpapa, toh ini malam minggu.
            Aku dan Vera ikut masuk. Aku hanya duduk di bangku tunggu, sedangkan mereka bertiga sudah asik berbincang-bincang tentang film yang ada di studio tiga.
            Tak lama ada sepasang kekasih yang terlihat mesra sekali memasuki barisan antre untuk membeli tiket. Sekilas aku melihatnya mirip dengan Ray. Aku menengok sekali lagi untuk memastikannya.
            DEGGG ...
            “HAHHH? RAY? Iya itu benar Ray!” batinku. Mereka saling berpegangan tangan dan kadang saling merangkul. “apa aku tidak salah lihat?” pikirku tak percaya. Aku coba mendekatinya dan benar sepasang kekasih itu adalah Ray .
            Oh tidak ... betapa hancurnya hatiku. Kebahagiaan yang belum lama aku terima ternyata hanya sementara. Tak tahan air mataku menetes didepannya.
            “Mei ...” ucap Ray pelan. Aku tak menghiraukannya, aku langsung berbalik badan dan berlari. Entah mengapa aku bisa mendapatkan peristiwa seperti ini. Apa salahku ya Tuhan? “Meiii ....” kali ini Ray memanggilku cukup keras, hingga teman-temanku tersadar ada aku yang berlari tanpa kabar. Aku terus berlari dan berlari tak peduli panggilan Ray. Aku tak mau berhenti dan menolehnya, itu membuatku semakin sakit. Melihatku pergi, ketiga temanku langsung mengejar dan menghampiriku. Entah apa yang dilakukan cowok itu setelah aku pergi.
            Melihatku yang dibanjiri air mata, Vera, Linda, dan Nia memasang wajah bingungnya. Oke jujur saja kalau tidak dalam keadaan merana seperti ini aku pasti akan terpingkal melihat wajah mereka.
            Hari ini ternyata kedua orang tuaku pergi ke Bandung. Aku anak tunggal, dan bibi pasti sudah pulang kerumahnya. Tinggal aku seorang diri yang merasakan perih ini.
            “Mei .. kita bolehkan menenin lu tidur” kata Linda hati-hati. Di sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa menangis tersedu-sedu. Berjuta pertanyaan yang di lontarkan teman-temanku tak ada satu pun yang dapat ku jawab. Aku benar-benar merasa rapuh.
            Sesampainya dirumah, aku segera kekamar untuk mengganti baju tidur dan mencuci mukaku. Aku berharap setelah cuci muka semuanya kembali seperti semula, Tidak ada penghianatan.
            Setelah aku keluar dari kamar mandi, ternyata ketiga temanku sudah duduk manis diatas kasurku. Aku menghampiri dan membuat lingkaran.
            Pertanyaan-pertanyaan dari mereka dapat ku jawab sambil meneteskan air mata. Malangnya nasibku. Entah mengapa cinta pertamaku berujung seperti ini. Kami berempat saling berpelukan.
            “gue ngerti maksud si Ray itu apa mei!” ucap Linda bersemangat. “Gue tau sifat cowok kaya dia itu Cuma buat banyak-banyakin cewek. Lu tau gak anak community itu semakin banyak ceweknya semakin dia ngerasa kalau dirinya itu WOW. Kadang mereka pacaran tidak memakai hati. Mereka hanya memikirkan ketenaran saja”
            Vera mulai ingin berbicara namun Nia sudah curi start terlebih dahulu. “iya menurut gue juga seperti itu. Emang si gak semua anak community seperti itu”
             “iya memang gak semuanya, tapi setidaknya kita sekarang tau bahwa Ray salah satu modus” lanjut linda.
            “betul! Gue ga rela ah temen gue yang masih polos ini di mainin sama cowo brengsek seperti itu”Nia menambahkanya.
            Akhirnya Vera mulai mengusulkan pendapatnya. “menurut gue mending kita gak usah memperpanjang masalah guys, kayanya bakalan percuma. Lu tau sendiri kan cowok kaya Ray itu mungkin gak punya hati. Ada baiknya kalau kita berusaha buat cari cara bikin Mei-Mei lupa akan Ray. Bukan untuk membalas/apapun semacamnya, itu sama aja membuat Mei gak bisa lupa dengan cowok itu.”
            Well .. well .. well temanku yang satu ini memang benar paling ngertiin. Dia tau apa yang aku butuhkan dan apa yang harus ku jauhkan. “thank’s guys .. gue sayang kalian.” Ucapku sambil menghapus air mata. Kami pun sepakat akan usul dari Vera, dan lagi-lagi kami berrpelukan.

-sekian-
Afi dianawati





Komentar

Postingan Populer